A.
Fotosintesis
Tumbuh-tumbuhan
dalam memenuhi keperluan hidupnya tentunya memerlukan nutrisi dan energi.
Perolehan nutrisi dan energi pada tumbuhan hijau terjadi melalui suatu proses
yang disebut fotosintesis (Rahman, 2012:7).
Fotosintesis
disusun dari dua kata, foto dari bahasa latin photo atau phot yang
berarti sinar dan sintesis dari kata synthesis
yang artinya menggabungkan sesuatu menjadi sesuatu yang kompleks. Jadi arti
kata fotosintesis secara keseluruhan adalah proses penggabungan CO2
dan H2O menjadi karbohidrat dalam kloroplas dengan bantuan cahaya.
(Yudiarti, 2004:11) Cahaya tersebut dapat berupa cahaya matahari atau cahaya
lainnya misalnya cahaya lampu yang memiliki panjang gelombang tertentu (Rahman,
2012:7).
|
Proses
fotosintesis terjadi di bagian kloroplas. Pada kloroplas terdapat sistem
penangkap foton yang disebut pigmen fotosintetik. Pigmen yaitu substansi yang
menyerap cahaya. Sekumpulan pigmen yang berwarna hijau yang ada dalam kloroplas
disebut dengan klorofil (Yudiarti, 2004:11). Dengan adanya klorofil ini maka
daun menjadi hijau dan pigmen ini dapat mengabsorbsi sinar dengan panjang gelombang
390-760 nm yang disebut sebagai sinar tampak yang dapat digunakan dalam proses
fotosintesis. (Salisbury, 1995:22). Selain klorofil, terdapat pula pigmen
pelengkap yaitu karotenoid. Pigmen ini berperan sebagai pelengkap penerima
cahaya.
Secara umum, proses
fotosintesis terbagi menjadi dua tahap, yaitu tahap reaksi terang dan tahap
reaksi gelap. Reaksi terang yaitu reaksi yang bergantung pada ketersediaan cahaya matahari
untuk menghasilkan energi. Reaksi ini menggerakkan sistem transfer elektron dan
hidrogen dari air ke penerima (akseptor) yang disebut NADP+ sebagai
penyimpan elektron berenergi ini. Reaksi ini terjadi di membran tilakoid. Secara ringkas, reaksi terang pada
fotosintesis ini terbagi menjadi dua, yaitu fosforilasi siklik dan fosforilasi
nonsiklik. Fosforilasi adalah reaksi penambahan gugus fosfat kepada senyawa
organik untuk membentuk senyawa fosfat organik. Proses fosforilasi ini dibantu
oleh adanya energi dari cahaya sehingga disebut juga fotofosforilasi. Fotofosforilasi
adalah proses pembuatan ATP sebagai sumber energi dari ADP + Pi menggunakan
energi dari cahaya. Sedangkan reaksi gelap merupakan reaksi yang tidak
membutuhkan cahaya matahari karena enzim-enzim yang berperan di dalam reaksi
ini mampu bekerja tanpa adanya cahaya matahari. Reaksi gelap terjadi di stroma.
Walaupun demikian, reaksi gelap terjadi pada siang hari sebab karena itulah
reaksi terang dapat menghasilkan kembali NADPH dan ATP yang digunakan dalam
reduksi CO2 menjadi gula (Campbell, 2002:185-186).
Komponen yang terlibat dalam sistem transport elektron
meliputi:
1. Fotosistem
·
Suatu
sistem yang terdiri dari pigmen-pigmen penangkap cahaya matahari yang akan
digunakan dalam reaksi terang.
·
Energi yang ditangkap ditransfer antara
molekul fotosistem sampai mencapai molekul klorofil pada pusat reaksi
·
Pada
membran tilakoid terdapat 2 tipe fotosistem yaitu fotosistem II dan I
a. Fotosistem II (FS II)
·
FS
II terdapat pada kawasan pinggir tilakoid grana.
·
Mengandung
sebuah kompleks inti yang terdiri dari 6 polipeptida integral dan berisi pusat
reaksi P680.
·
Terdapat
plastokuinon (PQ) yang merupakan kuinon di plasmid yang akan membawa 2 elektron
dari FS II ke FS I
·
Fungsi
keseluruhan fotosistem II adalah menggunakan energi cahaya untuk mereduksi
plastokuinon teroksidasi menjadi bentuk yang tereduksi penuh (2PQH2)
dengan menggunakan elektron air.
o
2H2O
+ 4 foton + 2PQ + 4H+ à O2 + 4H+ + 2PQH2
b. Fotosistem I (FS I)
·
Terletak
hanya di tilakoid stoma dan di daerah tengah grana yang menghadap stroma.
·
Mengandung
11 polipeptida dan pusat reaksi P700.
·
Berfungsi
mengoksidasi plastosianin tereduksi dan memindahkan protein Fe-S larut yang di
sebut ferodoksin.
Cahaya + 4PC(Cu+) + 4 Fd(Fe3+) à 4PC(Cu2+) + 4Fd(Fe2+)
2. Aseptor Elektron Primer
Terdiri dari dua
macam:
·
Aseptor
elektron primer yang ada dalam fotosistem I yaitu kuinon.
·
Aseptor
elektron primer yang ada dalam fotosistem II yaitu filofitin
3. Plastokuinon
4. Sitokrom
5. Plastosianin
6. NADP + reduktase
7. ATP syntase
Reaksi Terang
Fotofosforilasi
Nonsiklik
Baik fotosistem I maupun
fotosistem II merupakan sistem pigmen yang dapat menangkap energi sinar
matahari yang kemudian diberikan kepada elektron. Dengan demikian maka zarah
tersebut mempunyai kemampuan untuk mereduksi akseptor elektron. Pengaliran
elektron dari air sampai akseptor elektron terakhir berlangsung sebagai
berikut:
Jika pigmen dalam FS I itu
menyerap foton sinar matahari maka P700 akan terangsang dan melepaskan
elektronnya. Zarah itu kemudian diserap oleh pigmen lain yaitu P430, yang
menyebabkan senyawa (pigmen) redoks tersebut tereduksi. Dengan demikian maka
elektron yang ada pada pasangan redoks positif (FS I) dipindahkan ke pasangan
redoks negatif (P430). Elektron yang ada pada P430 itu kemudian bisa
dipindahtangankan ke NADP yang redoks potensinya lebih positif daripada P430.
Sebagai akibat dari lepasnya
elektron pada P700 maka pigmen tersebut berada dalam keadaan teroksidasi yang
dapat diibaratkan menjadi P700+. Kekurangan elektron pada pigmen
tersebut diisi oleh elektron yang berasal dari FS II. Hal ini hanya bisa
berlangsung apabila FS II dirangsang oleh foton sinar matahari yang kemudian
berubah menjadi P680+. Pengisian kembali “lubang” yang ditinggalkan
oleh elektron pada P680 dilakukan oleh elektron yang berasal dari H2O
(Martoharsono, 2006:84-85).
Dalam hal ini satu molekul H2O
melepaskan dua elektron yang diperlukan untuk mereduksi satu molekul NADP+
menjadi NADPH, dirangkaikan dengan pembentukan ATP dari ADP +Pi. Tingkat energi
elektron yang mempunyai potensial oksidasi-reduksi elektropositif, yaitu sistem
H2O/O2 (+0,82volt), dinaikkan ke tingkat energi dengan
potensial elektronegatif, yaitu sistem NADPH/NADP+ (-0,32 volt). Di
sini digunakan energi sinar matahari yang ditangkap oleh molekul P700 dari
fotosistem I dan molekul P680 dari fotosistem II. Elektron yang tereksitasi di
fotosistem II selanjutnya dialirkan ke fotosistem I melalui molekul penerima
elektron; sitokrom 559 (sitokrom b3=cyt.b3), plastoquinon (PQ), sitokrom 553
(sitokrom f=cyt.f), plastosianin (PC), dan molekul P700 di fotosistem I.
Pengangkutan elektron dari PQ ke cyt.f dirangkaikan dengan pembentukan ATP dari
ADP+Pi. Sementara itu elektron yang telah tereksitasi di fotosistem I,
dialirkan berturut-turut feredoksin (Fd) dan akhirnya ke NADP+, dimana molekul
ini tereduksi menjadi NADPH (Wirahadikusumah,1985:106)
Energi yang tereksitasi oleh elektron disalurkan
dari klorofil antena ke pasangan klorofil pusat reaksi yang disebut P680. Pusat
reaksi dalam keadaan tereksitasi P680*, merupakan reduktor yang jauh lebih kuat
dari status dasar. Dalam pikodetik eksitasi, satu elektron dipindahkan dari
P680* ke feofitin terikat (Ph), suatu porifin yang identik dengan klorofil a,
tetapi tidak mengandung Mg. Pusat reaksi menjadi suatu radikal kation, P680+.
Elektron selanjutnya pindah dari feofitin tereduksi
ke plastokinon-terikat permanen pada situs QA. Lalu QH2
memberikan elektron ke dalam suatu rantai elektron-pemompa proton yang
berikatan dengan fotosistem I.
Platokinon tereduksi (QH2) yang
dihasilkan oleh fotosistem II memberikan elektronnya ke dalam kompleks sitokrom
bf. Plastosianin tereduksi (PC) membawa elektron ke fotosistem I yang membentuk
feredoksin tereduksi (Fd). Reduktor yang kuat ini memindahkan elektronnya ke
NADP membentuk NADPH. Suatu gradien proton melintasi membran tilakoid (bagian
dalam asam) terbentuk bila elektron mengalir melewati komplek sitokrom b.
(Stryer, 1996: 662).
Mekanisme reaksi terang diawali dengan fotosistem II
menyerap cahaya matahari sehingga elektron klorofil pada PS II. PS II akan
mengambil elektron dari molekul H2O yang ada disekitarnya. Molekul air akan dipecahkan oleh ion mangan (Mn) yang bertindak sebagai
enzim ini akan mengakibatkan pelepasan H+ di
lumen tilakoid.
Dengan menggunakan elektron dari air, PS II akan mereduksi plastokuinon
(PQ) membentuk PQH2. Plastokuinon merupakan molekul kuinon yang
terdapat pada membran lipid bilayer tilakoid. Plastokuinon ini akan mengirimkan
elektron dari PS II ke suatu pompa H+ yang disebut sitokrom b6-f
kompleks. Reaksi keseluruhan yang terjadi di PS II adalah:
2H2O + 4
foton + 2PQ + 4H- → 4H+ + O2 +
2PQH2
Sitokrom b6-f kompleks berfungsi untuk membawa elektron dari PS
II ke PS I dengan mengoksidasi PQH2 dan mereduksi protein kecil
yang sangat mudah bergerak dan mengandung tembaga, yang dinamakan plastosianin
(PC). Kejadian ini juga menyebabkan terjadinya pompa H+ dari
stroma ke membran tilakoid. Reaksi yang terjadi pada sitokrom b6-f
kompleks adalah:
2PQH2 +
4PC(Cu2+) → 2PQ + 4PC(Cu+) + 4 H+ (lumen)
Elektron dari sitokrom b6-f kompleks akan
diterima oleh fotosistem I. Fotosistem ini menyerap energi cahaya terpisah
dari PS II, tapi mengandung kompleks inti terpisahkan, yang menerima elektron
yang berasal dari H2O melalui kompleks inti PS II lebih
dahulu. Sebagai sistem yang bergantung pada cahaya, PS I
berfungsi mengoksidasi plastosianin tereduksi dan memindahkan elektron ke
protein Fe-S larut yang disebut feredoksin. Reaksi keseluruhan pada PS I adalah:
Cahaya + 4PC(Cu+) + 4Fd(Fe3+) →
4PC(Cu2+) + 4Fd(Fe2+)
Selanjutnya elektron dari feredoksin digunakan dalam
tahap akhir pengangkutan elektron untuk mereduksi NADP+ dan
membentuk NADPH.Reaksi ini dikatalisis dalam stroma oleh enzim feredoksin-NADP+ reduktase. Reaksinya
adalah:
4Fd (Fe2+) + 2NADP+ + 2H+ →
4Fd (Fe3+) + 2NADPH
Ion H+ yang telah dipompa ke dalam
membran tilakoid akan masuk ke dalam ATP sintase. ATP sintase akan menggandengkan pembentukan ATP dengan pengangkutan
elektron dan H+ melintasi membran tilakoid. Masuknya H+ pada ATP
sintase akan membuat ATP sintase bekerja mengubah ADP dan fosfat anorganik (Pi)
menjadi ATP. Reaksi keseluruhan yang terjadi pada reaksi terang adalah
sebagai berikut:
Sinar + ADP + Pi + NADP+ +
2H2O → ATP + NADPH + 3H+ + O2
a. Reaksi Fotofosforilasi Siklik
Fosforilasi
dapat terjadi secara siklik yaitu proses pembuatan ATP yang hanya menggunakan
fotosistem I. Jalurnya disebut siklik karena elektron dari pusat reaksi P700
pada fotosistem I melalui reaksi yang pada akhirnya akan kembali ke pusat
reaksi P700. Ketika ada cahaya mengenai pusat reaksi P700 elektron pada P700
akan tereksitasi dan menjadi berenergi dan akan mengalirkan elektron ke
kompleks reseptor elektron didekatnya. Molekul yang tereksitasi yaitu yang
menerima energi dari foton cenderung tidak stabil dan akan melepas energi yang
dimilikinya ke molekul di dekatnya yang kemudian meneruskan elektron tersebut
ke kompleks Phyloquinnon, Fe-S dan Ferodoxin, tetapi tidak sampai ke NADP
sehingga tidak terbentuk NADPH. Elektron tersebut akan diteruskan kembali ke
kompleks sitokrom B6f, yang akan memindahkan proton dari stroma ke lumen
tilakoid melalui beberapa sitokrom yaitu sitokrom 4 subunit yang terdiri dari sebuah sitokrom dengan 2
heme tipe b, protein Fe-S, dan sitokrom f. (Stryer.2012:575)
Kompleks sitokrom akan mengkatalis proses perpindahan
elektron ke plastocyanin, sementara 2 proton dilepas ke ruang tilakoid yang
nantinya akan menimbulkan gradien proton(Stryer.2012:576).
Pada kloroplas arah pergerakan proton dari stroma menuju
ruang tilakoid sehingga ruang tilakoid menjadi ber pH rendah dengan jumlah
proton yang berlebih di ruang tilakoid, hal ini membuat proton H+ akan terpompa
keluar melalui ATP sintase menghasilkan pergerakan yang mensintesis ADP + Pi
menjadi ATP yang terjadi di stroma (Stryer.2012:578)
Sementara itu
elektron dari kompleks sitokrom B6f elektronnya diteruskan menuju
plastocyanin.Plastocyaninkemudian akan meneruskan elektron kembali ke pusat
reaksi P700. Reaksi siklik ini tidak menghasilkan NADPH dan O2,
sehingga melalui reaksi ini tumbuhan dapat mengatur perbandingan jumlah ATP dan
NADPHnya terkait dengan jumlah kebutuhan ATP dan NADPH saat reaksi gelap
(David, Michael.2004:741-742)
Reaksi gelap
Reaksi gelap merupakan reaksi lanjutan dari reaksi terang dalam fotosintesis. Reaksi ini tidak membutuhkan cahaya. Reaksi gelap terjadi
pada bagian kloroplas yang disebut stroma. Bahan reaksi gelap adalah ATP dan
NADPH, yang dihasilkan dari reaksi terang, dan CO2, yang berasal
dari udara bebas. Dari reaksi gelap ini, dihasilkan glukosa (C6H12O6),
yang sangat diperlukan bagi reaksi katabolisme. Reaksi ini ditemukan oleh
Melvin Calvin dan Andrew Benson, karena itu reaksi gelap disebut juga reaksi
Calvin-Benson.
Dalam reaksi gelap terjadi proses fiksasi karbon, reduksi
dan regenerasi.
1. Fiksasi Karbon
Fiksasi Karbon : rubisco mengkarboksilasi CO2 dengan
ribulosa 1,5 bifosfat membentuk gula 6 carbon yang tidak stabil.
Kemudian terjadi hidroksilasi pada atom C-3 karbon tersebut dan menyebabkan
pemisahan aldol membentuk 3-fosfogliserat, satu gugus karbon beranion
(carbanion) masih melekat pada sisi aktif enzim, karbon yang melekat ini diberi
proton oleh protein Lysin 175 membentuk 3-fosfogliserat kedua (Lehninger:756)
Kemudian 3-fosfogliserat ini akan diubah menjadi 1,3 bifosfogliserat menggunakan energi dari ATP yang selanjutnya diubah menjadi gliseraldehid 3 -fospat dengan bantuan energi dari NADPH. Di sini dengan bantuan isomerase gliseraldehid 3-fospat dapat diubah menjadi dihidroksi aseton untuk reaksi asimilasi selanjutnya atau tetap dalam bentuk gliseraldehid 3-fospat untuk digabungkan dengan dihidroksi aseton membentuk fruktosa 1,6 bifosfat yang akan digunakan untuk siklus selanjutnya(Lehninger:758)
DAFTAR PUSTAKA
Campbell, Neil A. Biologi Edisi Kelima Jilid 1. Jakarta:
Erlangga.
Nelson, David L., M. Cox., 2004. Lehninger Principle of Biochemistry.4th.Ed. New York : WH.Freeman Co.
Nelson, David L., M. Cox., 2004. Lehninger Principle of Biochemistry.4th.Ed. New York : WH.Freeman Co.
Rahman, Taufik. 2012. Nutrisi dan Energi Tumbuhan. Bandung:
Universitas Pendidikan Indonesia.
Salisbury, Frank B dan Cleon W.
Ross. 1995. Fisiologi Tumbuhan Jilid 2.
Bandung: ITB.
Stryer, Lubert et al.. 2012. Biochemistry.7th.Ed. New York : W.H Freeman
Stryer, Lubert et al.. 2012. Biochemistry.7th.Ed. New York : W.H Freeman
Yudiarti, Turrini. 2004. Buku Ajar Biologi. Semarang: UNDIP.





